1504- عن أَبي السَّائِبِ
مَوْلَى هِشَامِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
فِي بَيْتِهِ قَالَ فَوَجَدْتُهُ يُصَلِّي فَجَلَسْتُ أَنْتَظِرُهُ حَتَّى
يَقْضِيَ صَلَاتَهُ فَسَمِعْتُ تَحْرِيكًا فِي عَرَاجِينَ فِي نَاحِيَةِ الْبَيْتِ
فَالْتَفَتُّ فَإِذَا حَيَّةٌ فَوَثَبْتُ لِأَقْتُلَهَا فَأَشَارَ إِلَيَّ أَنْ
اجْلِسْ فَجَلَسْتُ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَشَارَ إِلَى بَيْتٍ فِي الدَّارِ فَقَالَ
أَتَرَى هَذَا الْبَيْتَ فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ كَانَ فِيهِ فَتًى مِنَّا حَدِيثُ
عَهْدٍ بِعُرْسٍ قَالَ فَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِلَى الْخَنْدَقِ فَكَانَ ذَلِكَ الْفَتَى يَسْتَأْذِنُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْصَافِ النَّهَارِ فَيَرْجِعُ
إِلَى أَهْلِهِ فَاسْتَأْذَنَهُ يَوْمًا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْ عَلَيْكَ سِلَاحَكَ فَإِنِّي أَخْشَى عَلَيْكَ
قُرَيْظَةَ فَأَخَذَ الرَّجُلُ سِلَاحَهُ ثُمَّ رَجَعَ فَإِذَا امْرَأَتُهُ بَيْنَ
الْبَابَيْنِ قَائِمَةً فَأَهْوَى إِلَيْهَا الرُّمْحَ لِيَطْعُنَهَا بِهِ وَأَصَابَتْهُ
غَيْرَةٌ فَقَالَتْ لَهُ اكْفُفْ عَلَيْكَ رُمْحَكَ وَادْخُلْ الْبَيْتَ حَتَّى
تَنْظُرَ مَا الَّذِي أَخْرَجَنِي فَدَخَلَ فَإِذَا بِحَيَّةٍ عَظِيمَةٍ
مُنْطَوِيَةٍ عَلَى الْفِرَاشِ فَأَهْوَى إِلَيْهَا بِالرُّمْحِ فَانْتَظَمَهَا
بِهِ ثُمَّ خَرَجَ فَرَكَزَهُ فِي الدَّارِ فَاضْطَرَبَتْ عَلَيْهِ فَمَا يُدْرَى
أَيُّهُمَا كَانَ أَسْرَعَ مَوْتًا الْحَيَّةُ أَمْ الْفَتَى قَالَ فَجِئْنَا
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ
وَقُلْنَا ادْعُ اللَّهَ يُحْيِيهِ لَنَا فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِصَاحِبِكُمْ
ثُمَّ قَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ
مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ
ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ
1504- Dari Abu Saib, pelayan Hisyam bin Zuhrah, bahwasanya dia pernah berkunjung ke rumah Abu Said Al Khudri RA. Abu Saib berkata, "Ketika itu saya mendapatkan Abu Said sedang shalat. Lalu saya menungguinya hingga ia selesai shalat. Tiba-tiba saya mendengar suara sesuatu yang bergerak di pelepah kurma di sudut rumah, lalu saya pun menoleh kepadanya. Ternyata di sana ada seekor ular, maka saya meloncat dari tempat duduk saya untuk membunuhnya. Namun, tak diduga sebelumnya, Abu Said Al Khudri malah memberi isyarat kepada saya agar tetap duduk. Akhirnya saya pun kembali ke tempat duduk saya. Selesai shalat, Abu Said menunjuk ke sebuah rumah di perkampungan itu seraya berkata, 'Kamu melihat rumah itu hai sahabatku?' Saya menjawab, 'Ya saya melihatnya.' Abu Said melanjutkan ucapannya, 'Di rumah itu dulu ada seorang pemuda yang termasuk keluarga kami dan baru saja melangsungkan pernikahannya {pengantin baru}. Dulu kami berangkat menuju medan perang Khandak bersama Rasulullah SAW. Ketika itu pemuda tersebut meminta izin kepada Rasulullah, pada tengah hari, untuk segera pulang menemui isterinya. Akhirnya Rasulullah memberinya izin seraya berkata kepadanya, 'Bawalah senjatamu, karena aku khawatir orang-orang Bani Quriazhah akan menyerangmu.' Tak lama kemudian, lelaki itu mengambil senjatanya dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia mendapati istrinya sedang berdiri di tengah pintu. Tak ayal lagi, ia pun langsung mengarahkan tombaknya untuk menikam istrinya {karena rasa cemburu}. Namun istrinya malah berkata kepadanya, 'Tahanlah tombakmu dan masuklah ke dalam rumah agar kamu tahu mengapa aku berada di luar!' Laki-laki itu masuk ke dalam rumah dan ternyata di dalamnya ada seekor ular besar yang sedang melingkar di atas tempat tidur. Tanpa berkata-kata lagi, langsung ia tikam ular tersebut dengan tombak yang dipegangnya. Setelah itu ia keluar seraya menancapkan tombaknya di depan rumah. Tiba-tiba ular tersebut menghantamnya. Tidak dapat diketahui dengan pasti, siapakah yang mati terlebih dahulu, ular ataukah pemuda itu?" Abu Said Al Khudri berkata, "Akhirnya kami mendatangi Rasulullah SAW untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada beliau. Lalu kami berkata, 'Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar dia dapat hidup!' Rasulullah pun menjawab, 'Mohonkanlah ampun kepada Allah untuk temanmu.' Setelah itu, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya di kota Madinah ini ada sekelompok jin yang telah masuk Islam. Apabila kamu melihat sesuatu yang aneh dari mereka, maka berilah izin kepada mereka untuk menetap di rumah selama tiga hari. Tetapi, setelah tiga hari tidak mau pergi juga, maka bunuhlah ia! Karena ia itu adalah syetan." {Muslim 7/40-41}
Takhrij Hadits:
- Malik
dalam Al-Muwatha. Kitab al-Isti’dzan; bab Maa Jaa fi Qathli
al-Hayati wa Maa Yuqolu fi Dzalika. Juz 2, hal 976. No 33.
- Ahmad
dalam Musnadnya. Musnad Al-Muktsirin Min ash-Shahabat;
Musnad Abi Sa’id Al-Khudri.
Juz 17, hal 461. No 11369.
- Muslim
dalam Shahihnya. Kitab as-Salam; bab Qothli al-Hayati wa
Ghairiha. Juz 4, hal 1757. No 2236.
- Abu
Dawud dalam Sunan nya. Kitab Adab;
Abwab an-Naum; Bab Fi Qothli al-Hayati. Juz 4, hal
365. No 5257.
- Tirmidzi
dalam Sunan nya. Abwab al-Ahkami wa Al-Fawaidh; bab Ma Jaa a
fi Qothli al-Hayati. Juz 4, hal 77. No 1484.
- An-Nasai
dalam As-Sunan al-Kubra. Kitab
as-Siyar; Idzan Al-Imami Li ar-Rajuli wa Huwa Yakhafu ‘Alaihi.
Juz 8, hal 141. No 8820.
- Ibn
Hibban dalam Shahihnya. Kitab
Al-Khatri wa Al-Ibahah; bab Qothli al-Hayawan; Dzikru al-Amri bi Qathli al-Mari
al-Hayata idza Roha fi Daarihi ba’da I’lamihi Iyyaha Tsalasata Ayyamin walaan.
Juz 12, hal 453. No 5637.
- Baihaqi
dalam Al-Adab. Bab Fi Qathli al-Hayyat.
Juz 1, hal 151. No 362.
Derajat Hadits: Shahih
Pesan-Pesan Hadits:
- Rumah para sahabat sangatlah sederhana.
- Boleh izin dari medan perang karena ada satu keperluan.
- Jin bisa menyerupai Ular.
- Jin juga sama seperti manusia, ada yang Muslim ada yang Kafir.
- Jika mendapati Jin yang menyerupai hewan dan tinggal di dalam rumah, biarkan ia selama tiga hari. Jika setelah tiga hari tidak pergi, maka bunuhlah.
- Syetan yang menyerupai mahluq lain seperti hewan itu berbahaya dan harus dibunuh.
8. Seri 40 Hadits: Kemampuan Jin Berubah Bentuk dan Tinggal di Dalam Rumah