Senin, 01 April 2019

Nikah Muda, Tunggu Apa Lagi?


Apa sih yang terbesit dalam diri teman-teman saat mendengar istilah nikah muda?, takut, cemas, gengsi atau senang? Mengenai perasaan tersebut, aku memiliki sebuah kisah kelam yang menimpa salah satu teman ku semasa SMA dahulu. Ia dan keluarganya memiliki kehidupan sehari-hari yang kurang harmonis. Bisa dibilang kedua orang tuanya kurang memperhatikan pergaulan dan kehidupan ia sehari-hari. Alhasil, ia merasa kesepian tidak memiliki tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya ketika harus berhadapan dengan puncak masa-masa pubertasnya semasa remaja. Sebetulnya, keluarga yang ia miliki adalah salah satu keluarga yang tidak diragukan lagi pengaruhnya pada masyarakat sekitar komplek perumahan yang kini ia huni. Bahkan saking berpengaruhnya keluarga tersebut, jika ayah dan ibu nya berada diluar kota, masyarakat silih bergantian menjaga dan merawat ia dan adiknya sepanjang hari.
Kejadian ini bermula ketika bulan Syawal dua tahun silam. Ketika kedua orang tua si Fulan sibuk berada di luar rumah, ia pergi bermain melepas kejenuhan ke sebuah tempat arena bermain biliyard bersama teman-teman sebayanya yang kebanyakan adalah anggota dari salah satu OKP ternama di Kota Tasikmalaya. Dari pergaulan yang ia tekuni selama ini, lambat laun pandangan dan pola hidupnya berubah menjadi cenderung arogan dan memiliki kehendak bebas tak mau diatur oleh orang tua apalagi lembaga sekolah yang tiap minggu tak bosan-bosannya memberi teguran bahkan surat peringatan untuk memperbaiki perilaku dan intensitas belajarnya ia di sekolah.
Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis muda yang berusia setahun lebih tua dari umurnya. Singkat cerita mereka menjalin hubungan yang dikenal sekarang dengan istilah pacaran. Selama mereka menjalin hubungan tersebut, setiap akhir pekan mereka selalu menyempatkan diri untuk jalan bareng dan bermain-main hingga larut malam. Tak ayal, selama berada di lingkungan sekolah pun mereka berdua sering terlihat berkhalwat (berduaan), sehingga membuat risih semua orang yang berada di sekitarnya. Pihak lembaga yang sering mendengar laporan dari para siswa terkait tingkah laku mereka berdua yang berpacaran di lingkungan sekolah tidak tinggal diam. Sudah berulang kali pihak lembaga memanggil si Fulan dan pacarnya, bahkan pada beberapa kesempatan kedua orang mereka ikut dipanggil untuk diberi peringatan dan nasihat akan bahaya yang dihawatirkan akan berlanjut kepada hal-hal yang tidak diinginkan.
Lambat laun hubungan yang mereka berdua jalin kembali menjadi normal seperti sedia kala sebelum mereka bertemu. Namun karena kelengahan orang tuanya, muncul sebuah kabar mencengangkan dari seorang siswi yang sedari dulu mengawasi tingkah laku mereka berdua.
“Dua bulan lagi si Elin akan melahirkan!”,kata seorang siswi berambut panjang di dalam kelas. 
Sontak saja kabar ini langsung tersebar dan membuat geger semua orang yang ada di sekolah, bahkan semua orang di kampung dan sekitar SMA kaget dengan berita yang mencengangkan ini. Semenjak kabar tersebut beredar, semua orang yang semula dekat dengan si Fulan spontan menjauh dan menjaga jarak karena tidak mau dekat-dekat dengan seorang manusia hina seperti dirinya. Keluarganya kaget, mereka tidak menyangka bahwa anak sulung yang selama ini dikenal baik dan soleh telah berbuat dosa besar yang menjadi aib bagi keluarga mereka.
Karena ulah yang telah diperbuat si Fulan, sekolah yang sebentar lagi akan usai terpaksa mengeluarkan dirinya dan mencabut status ia sebagai murid dari sekolah yang ia belajar di sana. Bukan hanya sekolah yang merampas masa depannya, namun keluarga, teman bahkan masyarakat telah menganggapnya sebagai orang asing yang tidak punya harga diri. Ia hidup seakan-akan tidak pernah lahir ke dunia, semua orang yang kenal dengan dirinya memutuskan untuk tidak berhubungan bahkan barang bertegur sapa dengan dirinya. Mereka tidak sudi dan malu terhadap perbuatan asusila yang telah ia perbuat. Sampai saat ini, ia hidup sebagai bapak dari anak yang tidak dikehendaki untuk lahir kedunia. Ia hidup dengan penuh kekecewaan dan rasa malu, sehingga sampai sekarang pun ia tetap merasa malu untuk bertemu dengan orang-orang yang dulu sempat ia kenal. Seolah-olah ia adalah mahluk asing yang terus hidup dalam persembunyian.
Berdasarkan kisah nyata yang siswa si Fulan di atas, terlihat jelas peran orang tua sebagai panutan dan guru bagi anak-anaknya memiliki peran yang sangat penting dalam mengarahkan dan menyelamatkan masa depan seorang anak dengan didikan dan kasih sayang yang semestinya dapat membuat masa depan seorang anak menjadi cerah dan terselamatkan. 
Pada era milenial saat ini, anak-anak cenderung lebih cepat menginjak masa akil baligh sehingga kematangan biologis yang mereka alami menjadi lebih cepat daripada kematangan emosi mereka. Karena disebabkan hal tersebut, libido seksual kepada lawan jenis pun menjadi semakin meningkat dan akan menjadi masalah besar jika dibiarkan dan tidak diimbangi dengan pembinaan ruh/jiwa agar sehat lahir batin. Dalam aspek pendidikan inilah peran orang tua menjadi sangat penting. Mengingat masih banyak orang tua yang berfikiran kolot dengan memegang kuat tradisi kuno dalam mengurusi pernikahan anak-anaknya. Kebanyakan dari mereka akan menahan anak-anaknya yang sudah dinilai cukup umur dan memiliki keinginan kuat untuk menikah di usia mudanya. Alasan mereka menangguhkan hal tersebut biasanya dikarenakan para orang tua menginginkan pasangan hidup yang ideal dan mematok kriteria yang terlalu tinggi untuk sang anak. Selain itu, para orang tua selalu sewenang-wenang dalam memilihkan jodoh tanpa persetujuan anak yang akan dinikahkannya. Alhasil, kehidupan rumah tangga yang sang anak jalani akan berjalan diatas keterpaksaan dan tidak akan mencapai keharmonisan dalam berumah tangga karena pada pernikahannya tidak dilandasi dengan cinta dan kasih sayang.
Selain para orang tua yang harus faham terhadap kondisi psikologis seorang anak, dibutuhkan pendidikan yang cukup dan keberanian dari orang tua untuk memberi kepercayaan kepada sang anak agar menikah pada usia muda. Tentu hal ini bukanlah sebuah aib, karena dalam syariat Islam dijelaskan jika ada seorang pemuda dan pemudi yang sudah mampu secara fisik dan mental untuk menikah maka nikahkanlah. Tidak perlu menunggu sukses untuk mulai membina rumah tangga, yang menjadi persoalan disini adalah keberanian. Ya, keberanian untuk menjaga diri dan martabat keluarga dengan jalan ibadah yang paling Allah sukai, yakni pernikahan.
Jika alasan ekonomi menjadi persoalan utama, ketika jodoh sudah ada akan tetapi kondisi ekonomi menjadi penghalang, maka perlu ditegaskan kembali, yang menjadi persoalan utama disini adalah kesiapan ekonomi atau kesiapan memberi nafkah? Kedua persoalan ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Jika kesiapan ekonomi lebih cenderung kepada kemampuan finansial yang mencukupi untuk melaksanakan pernikahan, maka kesiapan memberi nafkah akan mendorong sang calon untuk serius dan bekerja keras untuk mencari penghidupan berupa nafkah dengan berbagai cara yang akan semakin mempercepat kematangan dalam berumah tangga.
Dalam kasus kesiapan memberi nafkah disini, suami dan istri akan dituntut untuk bekerja sama bagaimana caranya agar rumah tangga yang baru mereka susun dapat bertahan bahkan berkelanjutan hingga akhir hayat nanti. Dengan cara inilah Allah SWT menjanjikan kepada ummatnya bahwa dengan pernikahan Ia akan membuat hambanya kaya. Barang siapa memulai sesuatu dengan Bismillah, maka Allah akan menyertai dan memudahkan segala langkah hidupnya sampai nanti segalanya akan berakhir. Allah lah yang akan menjamin itu semua.
 Maka dari itu, tunggu apa lagi, ayo segera lah menikah. Karena dengan menikah, setengah agamamu menjadi sempurna dan banyak hal-hal baru yang akan membuatmu pede sehingga menaikkan taraf kehidupanmu. Tentunya akan terbayang kan, bagaimana nanti setelah berkerja keras mencari nafkah, akan ada seorang bidadari cantik yang menyambutmu di ambang pintu rumah dengan senyuman kecilnya dan mengusap keringatmu dengan  belaian manja sambil membawakan secangkir kopi hitam yang manis untuk dirimu. Dan seketika itulah, segala lelah dan keringat yang telah keluar akan terbayarkan dengan rasa gembira yang tak terkira karena melihat wajah sang istri yang manis bercahaya menemani kita melepas rindu sehabis kerja.

Maka dari itu, ayo segera menikah.! 😄

0 komentar:

Posting Komentar