![]() |
Persatuan Islam menurut Deliar Noer didirikan di
Bandung pada tahun 1920, sedangkan dalam QA AD Persis, Persatuan Islam didirikan
pada tahun 1923. Ide Pendirian organisasi ini berasal dari diskusi-diskusi
keagamaan yang digelar di kediaman salah seorang anggota kelompok yang berasal
dari Sumsel, Palembang, yang sudah lama tinggal di Bandung. Mereka adalah
keturunan dari tiga keluarga yang pindah dari Palembang pada akhir abad 18.
Meskipun berasal dari Palembang, namun dalam kesehariannya mereka banyak
menggunakan bahasa dan adat budaya sunda sebagai alat pergaulan sehari-hari.
Jumlah awal kelompok diskusi ini berjumlah 20 orang
yang diantara mereka yang paling banyak memberikan gagasannya adalah H. Zamzam
dan H. Muhammad Yunus. Topik pembicaraan dalam kenduri ini menyangkut
masalah-masalah agama yang dibahas dalam majalah Al-Munir di Padang, Majalah
Al-Manar di Mesir dan Majalah Al-Imam dari Singapura.
Kelompok studi ini mendapat identitas pemikirannya
dengan masuknya A. Hassan yang pada waktu itu kebetulan ngekost di kediaman H.
Muhammad Yunus untuk mengikuti kelas pelatihan Tenun yang diadakan pemerintah
di Bandung. Secara tidak sengaja A. Hassan ikut melibatkan dirinya dalam
diskusi-diskusi keagamaan tersebut dan memutuskan untuk meninggalkan bisnis
tenun – yang semula didirikan di Surabaya atas modal yang diberikan oleh
sahabatnya Bibi Wantee yang kemudian dialihkan ke Bandung atas desakan para
tokoh Persis yang tidak melepaskannya pulang ke Surabaya - yang dirintisnya di
kota tersebut. kegiatannya yang semula berdagang kain tenun beralih kepada
kajian-kajian keagamaan dan fokus mengabdikan dirinya dalam organisasi Persatuan
Islam.
Berkat A. Hassan lah gaung Persis menjadi terdengar
ke-seantero negeri bahkan tidak jarang orang lebih mengetahui Persis nya
daripada tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Dengan pembawaannya yang keras dan
lebih mengedepankan metode dakwah shock theraphy, A. Hassan kerap kali
menggelar debat-debat seputar keagamaan dan kenegaraan dengan kelompok-kelompok
yang dinilai berbahaya terhadap agama Islam. selama kiprahnya di Persatuan
Islam, A. Hassan memiliki pola pendidikan kader yang khas kepada para muridnya.
Contoh murid beliau yang berhasil menjadi tokoh yang berpengaruh bagi negara
Indonesia adalah M. Natsir. A. Hassan sengaja merangkul kaula muda yang
bersekolah di yayasan pendidikan yang dibuat oleh belanda karena beliau
berfikir mereka adalah sosok potensial yang akan menjadi pemimpin bangsa pada
masa yang akan datang.
Beliau terkenal
keras ketika beradu argumen dalam sebuah forum namun lembut dan bersahabat
ketika bersama kawan dan muridnya. Hal ini terlihat dari cara memanggil orang
lain dengan sebutan “Tuan” kepada siapapun orangnya yang beliau ajak bicara.
Tidak peduli meskipun orang yang dihadapinya adalah seorang murid yang berusia
lebih muda dari beliau. Kebiasaan beliau ini menunjukkan sifat dirinya yang
selalu merendah sehingga, orang yang beliau ajak bicara selalu merasa kagum
dengan sifat tawadhu yang dimilikinya dan kerap menjadikan akhlak beliau
sebagai tauladan yang tidak jarang ditiru pula oleh para muridnya.
Pendidikan Persis Pada Masa A. Hassan dan Perintis
Lainnya.
Setiap sore sepulang sekolah menengah, para muridnya
selalu datang ke rumah beliau dan dari sanalah terjadi diskusi-diskusi terkait
berbagai persoalan. Yang paling sering dibahas dalam diskusi tersebut adalah
persoalan keagamaan yang tidak didapati di bangku sekolah umum buatan belanda.
Setiap ada persoalan yang diajukan muridnya, beliau tidak serta merta
memberikan jawaban dan solusi atas apa yang menjadi pertanyaan dari para
muridnya, melainkan beliau selalu memberikan arahan agar mereka mencarinya
dalam buku-buku dan rujukan berbahasa indonesia, arab, inggris, bahkan belanda yang
beliau miliki. Setelah selesai membaca, biasanya beliau akan menyuruh muridnya
untuk menuliskan gagasan yang mereka dapati dan tidak jarang beliau mengirimkan
tulisan-tulisan muridnya untuk dimuat di majalah-majalah dan surat kabar
Nasional agar dapat menjadi konsumsi publik yang bermanfaat untuk ummat.
Melalui metode pengajaran inilah semua murid yang
dimiliki A. Hassan mendapat kepercayaan diri untuk mengembangkan kemampuannya
dan berkontribusi untuk ummat, sehingga banyak pemikiran-pemikiran mereka yang
banyak diminati dan memberi pengaruh yang amat besar dalam wawasan keislaman,
pemikiran dan perpolitikan masyarakat Indonesia. Dalam tulisan-tulisan mereka,
nampak jelas pengaruh pola pemikiran A. Hassan nyatanya telah banyak memberikan
inspirasi dalam gagasan-gagasan yang mereka tuangkan. Hal ini dapat dilihat
dari bahasa dan teknik penyampaian yang mereka tulis dalam media-media lokal
dan Nasional.
Selain diskusi-diskusi yang A.Hassan gelar di
rumahnya, beliau pula mempunyai kelompok diskusi keagamaan yang dibuat pada
tahun 1927. Forum itu terbuka bagi para pelajar pribumi di sekolah menengah
seperti MULO, AMS, dan Kweekschool. Tidak sedikit pemuda muslim berdatangan ke
forum itu. Beberapa diantaranya adalah M. Natsir, Fakhruddin Al-Kahiri,
Rusbandi dan sebagainya yang kelak di kemudian hari justru menjadi tokoh-tokoh
Persis terkemuka.
Persis lantas dengan gencar membangun wadah untuk
mengembangkan Islam. A. Hassan menjadi penasihat Komite Pembela Islam yang
dipimpin Kyai Zamzam. Didirikannya komite ini dilandasi oleh adanya hasutan
dari pihak-pihak yang hendak menjatuhkan Islam dan desakan para tokoh Islam
yang ada di Bandung. Kemudian diantara rekan A. Hassan yang menyimpan perhatian
penuh pada perkembangan pendidikan yang ada di Persis dan Indonesia pada
Umumnya, A.A. Banama menggagas lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang
memadukan antara kurikulum pendidikan Pesantren (Islam) dengan kurikulum umum
yang selanjutnya dipercayakan kepada M.Natsir sebagai kepala sekolahnya.
Sekolah ini dinamakan dengan Lembaga Pendidikan Islam atau lebih dikenal dengan
singkatan Pendis yang didirikan pada tahun 1930. Sekolah ini selama masa
perkembangannya berhasil mendirikan beberapa taman kanak-kanak, HIS (1930),
MULO (1931), dan satu sekolah guru (1932). Pendis sendiri berdiri atas
inisiatif Natsir sebagai jawaban terhadap tuntutan dari berbagi pih2ak,
termasuk beberapa orang yang mengambil pelajaran bahasa Inggris dan beberapa
pelajaran lain kepadanya. Tuntutan ini dikemukakan setelah memperhatikan
berdirinya beberapa sekolah swasta di Bandung, yang tidak mengajarkan pelajara
Agama. Pada masa-masa awal berdirinya, Pendis menarik banyak pelajar yang
berasal dari berbagai daerah. Diantara tenaga pengajar yang mengajar di sekolah
ini adalah K.H. E. Abdurrahman, Isa Anshary dan M.Natsir sendiri. Pendis
sendiri keberadaannya tetap eksis hingga masa awal-awal kemerdekaan.
Dengan memperhatikan potensi yang dimiliki oleh
jamiyyah Persatuan Islam didirikanlah Pesantren Persatuan Islam pertama di
Jalan Pajagalan pada Tahun 1936. Jumlah santrinya 40 orang dan mempunyai masa
belajar selama empat tahun. Syarat-syarat pesantren itu, antara lain, berusia
18 tahun; sehat jasmani dan rohani; mampu membaca dan menulis arab dan Latin;
mempunyai pengetahuan tentang Alquran. Dan bila berminat menjadi guru,
syaratnya adalah: benrjanji untuk mengabdi kepada Persis, berupaya mendirikan
cabang-cabang Persis, disiplin ketat dan wajib mengerjakan perintah agama
semacam sholat dan puasa, meninggalkan kesukaan menghidap rokok selama di
pesantren, bersih badan dan pakaian, dan menjaga kesopanan.
Pelajar yang semula bersekolah di Pendis sebagiannya
pindah dan belajar di Pesantren Persis di Jl. Pageran Sumedang (bekas gedung
yang dipakai Pendis karena Natsir mulai Aktif di Politik). Barulah pada tahun
50-an dibangun gedung pesantren dan masjid di Jl. Pajagalan. Di pesantren
Pajagalan ini dibuka kelas pelajar Takhasus dan Madrasan Ibtidaiyyah dengan
sistem moderen Klasikal. Para santri yang belajar di pesantren tersebut
banyak yang berasal dari berbagai tempat di luar Bandung, sehingga kebanyakan
santri memilih untuk tinggal dengan menyewa kos kosan yang berada dekat di
sekitar pesantren. Sebagian besarnya memilih untuk pulang pergi dari rumah
orang tuanya dan sebagian nya lagi memilih untuk tinggal di rumah-rumah asatidz
persis yang mengajar di sana.
![]() |
| Bangunan Pesantren Persis 1-2 Pajagalan |
Pada masa-masa awal ini memang Pesantren Persis
Pajagalan belum memiliki bangunan Asrama, dan kegiatan yang ada di pesatren ini
dimulai pada pagi hari sampai sekitaran siang selepas dzhuhur. Untuk mengisi
kekosongan waktu, para santri disibukkan dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler
yang diwadahi dalam organisasi pelajar putra putri pesantren persis yang
dinamakan dengan Rijalul Ghad dan Ummahatul Ghad. Usia organisasi ini sama
tuanya dengan awal mula didirikannya pesantren persis. Kegiatannya berfokus
kepada kajian-kajian agama yang dibimbing langsung oleh para asatidz dan tidak
jarang pula mengadakan mubahatsah tekait persoalan-persoalan agama yang menjadi
penting pada waktu itu.
Selain fokus terhadap kajian-kajian keagamaan,
organisai ini -yang kemudian disingkat menjadi RG-UG- pun banyak mengadakan
pengajian-pengajian di rumah-rumah para santri dan sering juga mengadakan
debat-debat dengan kelompok-kelompok menyimpang seperti Komunis dan golongan
muslim yang masih berpegang teguh dengan keyakinan islam tradisionalnya.
Organisasi santri ini menjadi sarana ekstra yang dimiliki oleh para santri
untuk mengembangkan bakatnya serta berekspresi guna melatih kemampuannya aggar
nantinya bisa bermanfaat untuk ummat dan jamiyyah khususnya.
Selain kegiatan-kegiatan keilmuan yang dilakukan oleh
para santri baik dalam kegiatan belajar formal maupun kegiatan ekstra berupa
RG-UG, fisik dan mental mereka pun diasah dengan diajarkannya pelatihan
beladiri Shurulkhan ni syufu tae syukhan wa thifan pokhan juga kegiatan
kepanduan pramuka dengan nama Syubanul Yaum. Melalui kegiatan-kegiatan inilah
para santri ditempa untuk menjadi kader mujahid islam yang berdaya juang tinggi
sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hal ini sesuai dengan visi dan misi
pesantren persis yakni mencetak generasi yang tafaqquh fiddin dan menguasai
iptek sebagai khalifatullah fil ardh.
![]() |
| Kegiatan Santri Pesantren Persis |
![]() |
| Syufu Taesyukhan |
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan para santri tentunya
tidak lepas dari bimbingan dan araha dari para asatidzah yang ada. Setiap sore
sepulang sekolah, para santri biasanya nyorog kepada para asatidz sampai
larut malam di rumahnya. Disini kemampuan para santri dalam menguasai kitab
turats lebih ditekankan sehingga setelah keluar dari pesantren persis, para
santri dapat menjadi da’i – da’i yang handal dan dapat memiliki kemampuan dalam
menguasai berbagai aspek kehidupan.
Pada Tahun 1941, A. Hassan pindah ke Bangil dan
mendirikan pesantren persis besar di sana. Di Bangil, A.Hassan mendirikan
pesantren Persis untuk laki-laki dan perempuan secara terpisah. 25 dari 40 santri
dewasa ikut pindah bersama A. Hassan dan melanjutkan pendidikan pesantren di
sana. Sebagiannya lagi tetap tinggal di Pesantren Kecil yang dipimpin oleh
Ustadz Abdurrahman di Bandung dan tetap melanjutkan pendidikan pesantren hingga
berakhir masa penjajahan Belanda dan dimulai masa penjajahan Jepang. Namun saat
terjadi revolusi fisik pada tahun 1945-1949, pesantren Persis di bawah
kepemimpinan Ustadz Abdurrahman diungsikan ke Gunung Cupu Ciamis. Di sana
proses belajar mengajar tetap berlanjut meskipun diwarnai dengan kondisi
peperangan yang terjadi dengan tentara Jepang. Tak ayal para tenaga pengajar
termasuk Ustadz Abdurraahman dan para santrinya ikut terjun dalam perang
melawan penjajah. Setelah revolusi fisik berakhir, Pesantren Persis dipusatkan
lagi di Bandung dan terus mengembangkan jenjang pendidikannya hingga tingkat
Mu’allimin.
![]() |
| Bangunan Pesantren Persis A. Hassan Bangil |
Ada yang menarik dari Pesantren Persis yang didirikan
A. Hassan di Bangil ini. Jika pesantren yang didirikan di Bandung memiliki visi
misi untuk melahirkan generasi ulama yang tafaqquh fiddien dengan
mengolaborasikan pendidikan yang berwawasan IPTEK, di Bangil justru A. Hassan
menjadikan visi misi pesantren nya untuk melahirkan da’i-da’i dan ulama yang
mahir dalam fiqih – meskipun dalam kurikulum pesantren nya yang sekarang
berubah tidak jauh berbeda dengan visi- misi pesantren persis yang dibuat oleh
bidgar Dikdasmen PP. Persis-. Selain kurikulum pendidikan yang berbeda, di
pesantren Bangil ini organisasi pelajar yang ada berbeda dengan yang ada di
Bandung dan Pesantren Persis lainyya. Bagi santri putra, organisasi pelajar ini
bernama Persatuan Pelajar Pesantren Persis (P3P), dan Persatuan Pelajar
Pesantren Persis Putri (P4P). Kegiatan yang dilaksanakan pun langsung berada
dibawah arahan dan bimbingan para asatidz/ah yang mengajar di Pesantren
tersebut. kegiatan di dalamnya seperti: Qiyamullail, Puasa Sunnah, Tahfidz Alquran,
Khitabah, Bel Belajar Malam, Olahraga, Seni Beladiri, Kebersihan, Keputrian
(Les Jahit), Jurnalistik dan lain sebagainya berada di bawah kepengurusan P3P
dan P4P.
![]() |
| Santri Putra Pesantren Persis Bangil |
![]() |
| Santri Putri Pesantren Persis Bangil |
Di Bawah Kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman
Pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman, pesantren
persis membentuk sistem pembelajaran yang ketat namun tetap luwes, sesuai
dengan pembawaan Ust. Abdurrahman yang bersifat low profile. Para santri
ditempa untuk menjadi da’i-da’i yang handal dengan dibekali berbagai ilmu
pengetahuan, buku-buku pelajaran yang digunakan kebanyakan adalah hasil tangan
para ustadz di Persis. Seperti buku pelajaran mantiq yang dibuat oleh Ust.
Abdurrahman, ilmu faraidh yang dibuat oleh A. Hassan dan trilogi Ushul Fiqh;
mabadi’ awaliyah, As-Sulam dan Al-Bayan yang dibuat oleh Abdul Hamid Hakim dari
Sumatra. Semuanya dibuat karena memperhatikan masih sedikitnya buku-buku
pelajaran islam yang dibuat di Indonesia meskipun dalam prakteknya banyak juga
kitab-kitab turats yang digunakan para asatidz untuk memberikan pelajaran
kepada para santri.
Berhubung dengan sikap Persis yang mengisolir diri
dari kancah perpolitikan di bawah kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman, para santri
didikan beliau dibentuk untuk menjadi seorang ulama yang memiliki kemampuan
menguasai ajaran islam yang mumpuni. Bahkan dalam setiap wisuda beliau
seringkali berkata di hadapan para santrinya sambil memberikan ijazah, “ Mudah-mudahan
ijazah nu ku anjeun tarima ieu teu bisa dipake jang neangan gawe.” Dalam
aspek ini nampak jelas pola pendidikan yang beliau canangkan berupa pendidikan
keulamaan yang murni tanpa mengandung unsur-unsur politik atau yang semacamnya.
Salah satu alasan beliau mengambil sikap demikian karena besarnya kebutuhan
akan da’i- da’i yang berwawasan Quran Sunnah untuk menyebarkan dakwah di
daerah-daerah yang membutuhkan bimbingan keagamaan, termasuk beberapa daerah
yang ada cabang-cabang jamiyyah persis di dalamnya.
Keteguhan K.H.E. Abdurrahman bersama rekan-rekannya,
Qomaruddin Sholeh, K.H.E. Abdullah, I.Sudibja, dan M. Rusyad Nurdin dalam
mengelola pesantren Persis sejak tahun 1941 sampai Tahun 1983 telah membuahkan
puluhan pesantren di Jawa Barat. Yang terbesar ada di Garut dan Tasikmalaya
(Pesantren 67 Benda). Hingga sekarang, perkembangan pesantren persis nampak
terlihat sangat pesat. Dilihat dari jumlah pesantren persis yang tersebar di
Indonesia dengan sistem Numeral yang -mulai diterapkan secara merata pada tahun
1996- berurutan telah mencapai lebih dari 270 pesantren yang terdiri dari
jenjang pendidikan Diniyyah hingga Mu’allimin. Perkembangan ini tentunya
merupakan prestasi besar yang dimiliki Persatuan Islam. dengan banyaknya
Lembaga Pesantren yang berdiri, Persatuan Islam tidak akan lagi khawatir akan
lumbung kader yang akan melanjutkan estapeta perjuangan.
Dalam kurikulum yang digunakan pun Pesantren Persis
tetap memegang teguh kurikulum utama yang menjadi ciri khas Pesantren Persis
dan dipadukan dengan kurikulum pendidikan modern. Kolaborasi ini menjadi
strategi Persis untuk menciptakan kader-kader militan yang berwawasan Islam
yang luas serta menguasai Iptek agar selain mampu mengemban misi-misi dakwah,
para santri pun dapat menyesuaikan diri dengan alur perkembangan zaman.
Di Bawah Kepemimpinan A. Lathief Muchtar
Barulah pada masa kepemimpinan A. Latief Muchtar,
Persis nampak mulai kembali membuka diri dari berbagai aspek sebagai upaya
keluar dari zona isolir diri yang dimulai sejak kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman
pada kepemimpinan sebelumnya. Langkah ini dinilai strategis menimbang kondisi
Negara yang tidak lagi berada dalam otoritas terpimpin menjadi lebih terbuka
terhadap berbagai pengaruh yang ada dari dalam dan luar. Selain perkembangan
jamiyyah yang pesat, Persis pun berhasi mendirikan Sekolah Tinggi nya yang
pertama pada tahun 1988 dengan nama Pesantren Luhur, yang kemudian mengalami
perubahan nama dari Pondok Pesantren Tinggi (PPT), kemudian Sekolah Tinggi Ilmu
Ushuluddin (STIU) dan terakhir Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIPI). Pada masa
beliau inilah STAIPI berhasil meluluskan wisudawan angkatan pertama pada tahun
1997. Pada saat kelulusan ini, beliau berkata lirih, “ Akhirnya berhasil juga,
dan tiba saatnya wisuda sarjana mahasiswa STAIPI.”
| Kampus STAI Persis Bandung |
![]() |
| Rancangan Universitas Persatuan Islam |
Didirikannya perguruan tinggi Persis jurusan Dakwah
dan Tafsir-Hadits, menurut Ustadz Lathief, didasari oleh kebutuhan tenaga da’i
yang menguasai bidang dakwah, baik secara teoretis maupun praktis, dan mampu
mengaktualisasikannya kepada masyarakat, baik dalam bentuk lisan dan tulisan.
Selain itu, menurutnya, Persis juga perlu mempersiapkan tenaga-tenaga mufassir
dan muhaddits yang handal dan mampu mengembangkan penafsiran secara
tekstual, kontekstual, dan aktual serta menguasai metodologi Ilmu Hadits.
Berkat pergaulan beliau yang luas mencakup dunia
Nasional dan Internasional, pendidikan persis mendapatkan banyak bantuan dari
yayasan-yayasan yang berasal dari dalam dan luar negeri. Hal ini menjadi
perhatian beliau karena melihat di Persis sendiri, kemandirian ekonomi belum
mapan seperti yang dilakukan oleh organisasi lain seperti Muhammadiyyah dan
Al-irsyad. Kondisi ini didasari oleh gerakan Persis itu sendiri yang dari
semula lebih menekankan kepada aspek dakwah dan pergulatan pemikiran, sehingga
berdampak pada kesejahteraan para pengajar dan da’i yang dimiliki Persis.
Kondisi ini memiliki dampak positif sebagai alat pengukur keikhlasan berdakwah
bagi para asatidz dan mubaligh persis. Namun dampak negatifnya akan menjadi
masalah besar jika tidak segera dibenahi dan dibuat langkah strategis untuk
merumuskan langkah gerak Persis dalam hal ekonomi pada masa yang akan datang.
Jika sampai masalah ini dibiarkan, tentu masa depan jamiyyah akan terkena
dampaknya. Ketika revolusi industri semakin gencar digalakan, Persis akan
tertinggal dan terasingkan bersama ormas-ormas lain yang tidak memperhatikan
aspek perkembangan ekonomi dari sekarang.
Selain sikap dan kebijakan yang A. Lathief Muchtar
lakukan di atas, beliau pula ikut membidani lahirnya organisasi Himpunan
Mahasiswa Persatuan Islam ( HIMA Persis) sebagai wadah dan alat dakwah yang
mempersatukan mahasiswa Persis dalam bingkai Alquran dan Sunnah. Sikap beliau
ini tidak bisa dipisahkan dari latar belakang pendidikan beliau yang luas dan
beragam di dalam dan di luar negeri. Atas dasar itulah, beliau menaruh
perhatian besar bagi para calon pemimpin negara di masa yang akan datang ini
agar dapat menjadi wakil orang tua di bidang intelektual yang ada di strata
kampus. Maka dengan lahirnya HIMA Persis di bawah asuhan beliau, ranah dakwah
yang dimiliki Persatuan Islam menjadi semakin luas dan beragam.
Tiga minggu sebelum wafatnya, di kantor PP. Persis,
beliau masih sempat membicarakan pendirian Universitas Ahmad Hassan, sebuah
universitas Persis yang berbasis agama dan pengembangan teknologi, dengan
terlebih dahulu merencanakan pendirian Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM)
Ahmad Hassan, Jurusan Fisika dengan spesialisasi instrumentasi dan teknologi
syariah Islam, serta jurusan Metrologi dan pengendalian Mutu. Cita-citanya
untuk mencetak kader-kader ilmuwan muslim sejati merupakan perpaduan jiwa Ustad
Latief sebagai sosok cendekiawan dan ulama paripurna.
Selama perkembangan pendidikan yang ada di lingkungan
Persatuan Islam hingga saat ini, tidak nampak perubahan dan perkembangan yang
bersifat mencolok dan berskala besar dalam berbagai aspek. Paling tidak
perkembangan yang bersifat lumayan besar dan mencolok adalah dengan diadakannya
jenjang pendidikan umum selain Pesantren Persis seperti SMP Plus Panumbangan,
SMA Plus Mu’allimin 182 Rajapolah, SMA Plus Pakenjeng dan masih ada lagi corak
pendidikan persis yang berbeda dari pola pendidikan persis secara keumuman.
Namun dengan didirikannya corak pendidikan yang berbeda tersebut, akselerasi
dan kreatifitas Persis dalam menanggapi perkembangan zaman dapat dinilai wajar
saja. dengan tidak menghilangkan kurikulum pendidikan yang dimiliki Persis,
lembaga pendidikan-pendidikan tersebut ikut pula menggunakan kurikulum dinas
kementrian pendidikan Republik Indonesia. Hal ini tentu menjadi suatu daya tari
tersendiri bagi Jamiyyah Persis pada
khususnya, dan masyarakat islam sendiri pada umumnya untuk menyekolahkan
anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang dimiliki oleh jamiyyah Persis.
Selain lembaga pendidikan yang berkembang ke arah
afiliasi terhadap corak pendidikan umum, Persis juga masih mempunyai pesantren
yang tetap menggunakan kurikulum dan corak pendidikan khas yang dimiliki persis
dari semenjak dahulu hingga sekarang. Ialah pesantren Persis 34 Cibegol.
Dibawah kepemimpinan Ust. Romli, pesantren ini masih memegang teguh tradisi
pesantren persis yang diwariskan oleh pendahulunya yakni K.H.E. Abdurrahman. Hingga
saat ini pesantren Persis Cibegol masih menggunakan sistem Pesantren Persis
Syawal Sya’ban –meskipun pada tahun pelajaran yang akan datang sistem SS ini
akan diganti- disaat pesantren Persis yang lain sudah beralih menggunakan
sistem kurikulum Juni-Juli. Selain kurikulum pendidikan yang masih murni,
sistem pendidikan pesantren ini telah berhasil mencetak kader-kader ulama yang
mumpuni dalam hal penguasaan kitab turats, yang pada saat ini menjadi sebuah
barang langka di pesantren Persis yang lainnya.
Tentunya keberagaman corak ini menjadi sebuah harta
kekayaan berharga bagi jam’iyyah persis yang tetap harus dijaga dan
dilestarikan hingga akhir nanti. Namun, dengan beragamnya perkembangan yang
terjadi di pesantren Persis menjadi sebuah PR besar bagi generasi mendatang
agar bijak menanggapi perubahan sehingga dapat menjadikan perubahan dan
perkembangan yang ada sebagai sarana dinamisasi jam’iyyah dan berdampak positif
bagi jam’iyyah dan Ummat Islam pada umumnya. Maka dari itu, keberagaman corak
dan perkembangan yang ada merupakan sebuah kewajaran yang terjadi di dalam
sebuah tubuh organisasi, terlebih dalam bidang pendidikan yang bersifat dinamis
dan akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Patutlah bagi seorang kader
Persis menatap perkembangan jamiyyah ini sebagai peluang yang harus
dimanfaatkan di masa yang akan datang demi terciptanya lapangan pendidikan yang
baik dan terbukti mampu untuk menghasilkan para lulusan-lulusan yang siap
bertarung di medan juang yang tentu akan sangat berbeda dengan para
pendahulunya. Karena pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berorientasi
untuk masa depan. Sesuai dengan Hadits: “Ajarilah anak-anakmu. Sesungguhnya
mereka dilahirkan bukan di zamanmu.”
Garut, 17-Maret-2019
Abdurrofi Muwaffaq









PENDIDIKAN PERSIS DARI MASA KE MASA