Jumat, 04 April 2014

A Hassan (Sang Guru Besar Persatuan Islam)

A. Hassan

Ahmad Hassan (1887-1958) adalah ikon utama organisasi pembaharu islam abad ke-20, Persatuan Islam, sekalipun ia baru bergabung sekitar tiga tahun setelah organisasi ini berdiri. Bahkan boleh dikatakan bahwa A. Hassan-lah yang telah memberi warna dan identitas bagi persatuan islam. Pemikiran-pemikiran A. Hassanlah yang nanti menjadi fondasi dasar pengembangan pemikiran di Persatuan Islam. Oleh sebab itu, tidak heran apabila membicarakan Persis, terutama pada paruh pertama abad ke 20 harus membicarakan A. Hassan. Demikian pula sebaliknya. Apabila A. Hassan di bicarakan, maka sosoknya itu tidak bisa di pisahkan dari organisasi yang ikut bergabung didalamnya itu. A. Hassan adalah Persis dan Persis adalah A. Hassan. Paling tidak ungkapan ini benar sampai menjelang Indonesia Merdeka.

SOSOK A. HASSAN
A.Hassan atau Hassan bin Ahmad (dalam tradisi masyarakat Singapura nama ayah biasanya ditulis di depan nama asli hingga ia lebih di kenal dengan nama Ahmad Hassan atau A. Hassan) dilahirkan pada tahun 1887 di Singapura. Ayahnya bernama Ahmad berasal dari India dan bergelar Pandit. Ibunya bernama Muznah yang berasal dari Palekat Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad pergi berdagang ke kota itu dan kemudian menetap di Singapura. Ia mulai bekerja mencari nafkah pada umur 12 tahun, sambil belajar bahasa Arab secara privat dengan maksud agar ia dapat memperdalam islam secara otodidak. Dari tahun 1910-1921 A. Hassan melakukan banyak pekerjaan di Singapura seperti menjadi guru, menjadi seorang pedagang tekstil, menjadi agen distribusi ES, juru tulis di kantor jemaah haji dan juga sebagai anggota redaksi Utusan Melayu yang disitu ia mengasuh rubrik etika.
Tahun 1921 Hassan pindah ke Surabaya dengan maksud mengurus toko tekstil milik paman dan gurunya, Abdul Lathif di kota itu. Ketika hendak beranngakat, Abdul Lathif berpesan padanya agar di Surabaya nanti tidak bergaul dengan orang yang bernama Faqih Hasyim yang dianggap sesat karena menganut paham Wahabi. Di surabaya ketika itu memang tengah hangat pertentanngan antara Kaum tua dan Kaum Muda.
Saat berkunjung kepada Kyai Haji Abdul Wahhab, yang kemudian menjadi tokoh perkumpulan Nahdlatul Ulama (NU), Hassan mendengar lebih banya pertikaian antara Kaum Tua dan Kaum Muda. Pertemuannya dengan Kyai Haji Abdul Wahhab malah Membuatnya berkesimpulan bahwa Kaum mudalah yang benar, terutama karena penelitiannya terhadap Al-Qur’an dan Hadits yang tidak mendukung praktek-praktek Kaum Tua.
Tidak lama kemudaian Hassan pergi ke Bandung untuk mempelajari cara-cara menenun di sebuah lembaga tekstil pemerintah, karena ia bermaksud untuk mendirikan perusahan tenun di Surabaya bersama beberapa kawannya. Di Bandung Hassan tinggal di rumah Haji Muhammad Yunus, salah seorang pendiri Persis. Dengan demikian, tanpa sengaja Hassan mendekatkan diri pada pusat kegiatan keagamaan yang baru saja didirikan. Akhirnya, Hassan memutuskan untuk terus tinggal di Bandung dan mendalami masalah agama bergabung bersama Haji Muhammad Yunus di Persis dan Perusahaan yang direncanakannya terpaksa ditutup.

A.HASSAN DI KEORGANISASIAN
Saat A. Hassan menginjakkan kaki di Bandung beliau sempat bertemu dengan Presiden RI Indonesia, Sukarno. Dari pertemuan itulah A. Hassan dan Sukarno saling kenal. Pertemuan langsung A. Hassan dengan Sukarno diawali ketika keduanya sama-sama datang ke percetakan Drukerij Ekonomi milik orang Cina di Bandung. Sukarno sedang mencetak surat kabar yang diterbitkannya, Fikiran Rakjat. Sementara A. Hassan sedang mencetak majalah dan buku-buku yang diterbitkannya. Sejak pertemuan itulah Sukarno mengenal  A. Hassan dan pemikiran-pemikirannya. Terutama, Sukarno menjadi tertarik untuk mempelajari islam kepada A. Hassan.
Selain Sukarno, A. Hassan juga mempunyai seorang murid yang cerdas, berbakat, dan sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Mohammad Natsir. Beialu bergabung dalam organisasi Masyumi dan menjabat Perdana Mentri tahun 1950.
A.Hassan sendiri pernah ikut ambil bagian pada Kongres Al-Islam yang didirikan oleh Sarekat Islam sejak tahun 1922. Tahun 1936 didirikan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) sebagai wadah untuk mempersatukan berbagai organisasi gerakan islam. Berkat pemikiran A. Hassan, kongres memutuskan menunjuk Persis sebagai ketua komisi khusus penanganan masalah aliran sesat dan penghinaan agama.
Pengakuan terhadap posisi persis tidak teerlepas dari reputasi A. Hassan yang  dikenal sangat berani berhadap-hadapan degan berbagai aliran sesat. Diantaranya, A. Hassan melakukan perdebatan dengan Ahmadiyah yang mendapat liputan media secara nasional pada tanggal 28-29 September 1933 di Gang Kenari Salemba DKI Jakarta. A. Hassan juga pernah berdebat dengan sekte Kristen Seven Day Adventis, dan sebagainya. Atas keberanian A. Hassan menghadapi berbagai aliran sesat itulah, Persis memikili tempat khusus di dalam “pasar” gerakan islam saat itu. Ini juga sekaligus dapat menjadi indikasi bahwa A. Hassan bukanlah tokoh yang bereputasi biasa-siasa saja, sekalipun organisasi tempatnya bergabung bukan merupakan organisasi dengan anggota yang banyak dan jaringan cabang-cabang yang banyak. Oleh karena posisinya itulah, posisi A. Hassan amat layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, A Wahid Hasyim, Tjokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Sookarti, dan sebagainya. Dengan tokoh-tokoh ini pula A. Hassan sering duduk satu kursi dalam berbagai forum umat islam saat itu.

KEPELOPORAN A. HASSAN DALAM GERAKAN ISLAM DI INDONESIA
kepeloporan A. Hassan harus dilihat dari bidang yang digelutinya yang pada masa-masa berikutnya cukup berpengaruh bagi perjalanan sejarah bangsa ini,yaitu bidang pemikiran islam. Dalam bidang yang satu ini, sekalipun A. Hassan bukan satu-satunya pemikir islam, namun terobosan-terobosannya cukup menyita perhatian banyak orang di seantero negeri ini, bahkan hingga ke negri jiran. Ada beberapa hal yang penting untuk kita garis bawahi.
Pertama, deklarasi kajian islam. Pada zaman A. Hassan, kegiatan belajar agama adalah kegiatan yang boleh dikatakan ekslusif dan sakral. Siapa yang ingin mempelajari islam, ia tidak bisa mempelajarinya sendiri. Ia harus datang ke pesantren atau kiyai. Bila tidak ingin menjadi santri yang belajar baca kitab gundul, ia hanya bisa bertanya kepada kiyai dan pemuka agama. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila “kejumudan” melanda sebagian besar orang islam. Kajian dan pemikiran islam tidak dibuka untuk menjadi bahan perbincangan siapa saja secara umum. Adalah A. Hassan salah satu yang paling penting dalam mendobrak kebekuan ini.
Dari tangan A. Hassan ini, menurut catatan Federspiel, terbit majalah pertama Persis yaitu Pembela Islam yang terbit pada tahun 1929. Cetakannya mencapai 2000 eksemplar. Artikel-artikel dalam Pembela Islam ditulis oleh anggota-anggota Persatuan Islam atau tokoh-tokoh lain yang menonjol yang isinya menekankan pada keta’atan ibadah dan amaliah dalam kehidupan Umat Islam (Kajian Islam), juga pada peran agama dan politik. Majalah ini dilarang belanda tahun 1935 karena dianggap memfitnah penulis-penulis kristen Belanda. Selam enam tahun Pembela Islam telah terbit sebanyak 71 kali.
Masih banyak majalah-majalah yang ditulis oleh Persatuan Islam selain  Pembela Islam diantaranya adalah: al-Fatwa, al-Lisan, at-Taqwa, Lasjkar Islam, dan al-Hikam.
Kedua, pelopor tradisi penerjemahan. Salah satu warisan A. Hassan yang masih dicetak dan dibaca oleh banyak orang adalah terjemahan dan komentar Al-Qur’an dan Hadits. Terjemahan dan tafsir Al-Quran-nya diberi judul Tafsir Al-Furqan sedangkan terjemah plus komentar Hadits yang dibuatnya diberi judul Tarjamah Bulughul-Maram. Terjemahan, baik Al-Qur’an maupun Hadits, ini apabila dibandingkan dengan perkembangan penerjemahan satu dekade belakangan ini, tentu bukan suatu perkembagan yang hebat. Saat ini tradisi penerjemahan sudah boleh dikatakan sangat maju. Bukan hanya Al-Qur’an dan kumpulan Hadits yang tidak terlalu tebal seperti Bulughul-Maram yang diterjemahkan, bahkan terjemahan Fathul-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari yang dalam edisi terjemahannya menjadi lebih dari 20 jilid pun sudah dilakukan. Apa yang dilakukan A. Hassan harus dilihat dari konteks zamannya.
Ketiga, pelopor pengkajian aliran sesat. Saat ini, perbincangan mengenai aliran-aliran sesat sudah banyak dilakukan oleh banyak orang. Perdebatan yang dilakukan A. Hassan dengan Ahmadiyah di Gang Kenari tahun 1933 setelah ia menulis mengenai aliran ini di berbagai majalah yang di asuhnya telah membuka mata publik tentang potensi-potensi aliran sesat yang tersebar di tengah masyarakat. Kesadaran inilah yang menyebabkan penolakkan MIAI pada tahun 1936 untuk memasukkan Ahmadiyah sebagai anggota majelis ini. Bahkan, dalam setiap konggres Al-Islam yang diselenggarakan selalu diagendakan pembahasan mengenai aliran-aliran sesat dan penghinaan penghinaan terhadap islam. Biasanya Persis selalu dipercaya untuk menjadi bagian dari tim kajian ini. Tentu saja tidak lepas dari apa yang telah dilakukan A. Hassan