| A. Hassan |
Ahmad Hassan (1887-1958) adalah
ikon utama organisasi pembaharu islam abad ke-20, Persatuan Islam, sekalipun ia
baru bergabung sekitar tiga tahun setelah organisasi ini berdiri. Bahkan boleh
dikatakan bahwa A. Hassan-lah yang telah memberi warna dan identitas bagi
persatuan islam. Pemikiran-pemikiran A. Hassanlah yang nanti menjadi fondasi
dasar pengembangan pemikiran di Persatuan Islam. Oleh sebab itu, tidak heran
apabila membicarakan Persis, terutama pada paruh pertama abad ke 20 harus
membicarakan A. Hassan. Demikian pula sebaliknya. Apabila A. Hassan di
bicarakan, maka sosoknya itu tidak bisa di pisahkan dari organisasi yang ikut
bergabung didalamnya itu. A. Hassan adalah Persis dan Persis adalah A. Hassan.
Paling tidak ungkapan ini benar sampai menjelang Indonesia Merdeka.
SOSOK A. HASSAN
A.Hassan atau Hassan bin Ahmad
(dalam tradisi masyarakat Singapura nama ayah biasanya ditulis di depan nama
asli hingga ia lebih di kenal dengan nama Ahmad Hassan atau A. Hassan)
dilahirkan pada tahun 1887 di Singapura. Ayahnya bernama Ahmad berasal dari India
dan bergelar Pandit. Ibunya bernama Muznah yang berasal dari Palekat Madras, tetapi
lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad pergi
berdagang ke kota itu dan kemudian menetap di Singapura. Ia mulai bekerja
mencari nafkah pada umur 12 tahun, sambil belajar bahasa Arab secara privat
dengan maksud agar ia dapat memperdalam islam secara otodidak. Dari tahun
1910-1921 A. Hassan melakukan banyak pekerjaan di Singapura seperti menjadi
guru, menjadi seorang pedagang tekstil, menjadi agen distribusi ES, juru tulis
di kantor jemaah haji dan juga sebagai anggota redaksi Utusan Melayu
yang disitu ia mengasuh rubrik etika.
Tahun 1921 Hassan pindah ke
Surabaya dengan maksud mengurus toko tekstil milik paman dan gurunya, Abdul Lathif
di kota itu. Ketika hendak beranngakat, Abdul Lathif berpesan padanya agar di
Surabaya nanti tidak bergaul dengan orang yang bernama Faqih Hasyim yang
dianggap sesat karena menganut paham Wahabi. Di surabaya ketika itu
memang tengah hangat pertentanngan antara Kaum tua dan Kaum Muda.
Saat berkunjung kepada Kyai Haji
Abdul Wahhab, yang kemudian menjadi tokoh perkumpulan Nahdlatul Ulama (NU),
Hassan mendengar lebih banya pertikaian antara Kaum Tua dan Kaum Muda.
Pertemuannya dengan Kyai Haji Abdul Wahhab malah Membuatnya berkesimpulan bahwa
Kaum mudalah yang benar, terutama karena penelitiannya terhadap Al-Qur’an dan
Hadits yang tidak mendukung praktek-praktek Kaum Tua.
Tidak lama kemudaian Hassan pergi
ke Bandung untuk mempelajari cara-cara menenun di sebuah lembaga tekstil
pemerintah, karena ia bermaksud untuk mendirikan perusahan tenun di Surabaya
bersama beberapa kawannya. Di Bandung Hassan tinggal di rumah Haji Muhammad
Yunus, salah seorang pendiri Persis. Dengan demikian, tanpa sengaja Hassan
mendekatkan diri pada pusat kegiatan keagamaan yang baru saja didirikan. Akhirnya,
Hassan memutuskan untuk terus tinggal di Bandung dan mendalami masalah agama
bergabung bersama Haji Muhammad Yunus di Persis dan Perusahaan yang direncanakannya
terpaksa ditutup.
A.HASSAN DI KEORGANISASIAN
Saat A. Hassan menginjakkan kaki
di Bandung beliau sempat bertemu dengan Presiden RI Indonesia, Sukarno. Dari pertemuan
itulah A. Hassan dan Sukarno saling kenal. Pertemuan langsung A. Hassan dengan
Sukarno diawali ketika keduanya sama-sama datang ke percetakan Drukerij
Ekonomi milik orang Cina di Bandung. Sukarno sedang mencetak surat kabar
yang diterbitkannya, Fikiran Rakjat. Sementara A. Hassan sedang mencetak
majalah dan buku-buku yang diterbitkannya. Sejak pertemuan itulah Sukarno mengenal
A. Hassan dan pemikiran-pemikirannya. Terutama,
Sukarno menjadi tertarik untuk mempelajari islam kepada A. Hassan.
Selain Sukarno, A. Hassan juga
mempunyai seorang murid yang cerdas, berbakat, dan sangat berpengaruh dalam
sejarah Indonesia, yaitu Mohammad Natsir. Beialu bergabung dalam organisasi Masyumi
dan menjabat Perdana Mentri tahun 1950.
A.Hassan sendiri pernah ikut
ambil bagian pada Kongres Al-Islam yang didirikan oleh Sarekat Islam sejak
tahun 1922. Tahun 1936 didirikan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) sebagai
wadah untuk mempersatukan berbagai organisasi gerakan islam. Berkat pemikiran
A. Hassan, kongres memutuskan menunjuk Persis sebagai ketua komisi khusus penanganan
masalah aliran sesat dan penghinaan agama.
Pengakuan terhadap posisi persis
tidak teerlepas dari reputasi A. Hassan yang
dikenal sangat berani berhadap-hadapan degan berbagai aliran sesat. Diantaranya,
A. Hassan melakukan perdebatan dengan Ahmadiyah yang mendapat liputan media
secara nasional pada tanggal 28-29 September 1933 di Gang Kenari Salemba DKI
Jakarta. A. Hassan juga pernah berdebat dengan sekte Kristen Seven Day Adventis,
dan sebagainya. Atas keberanian A. Hassan menghadapi berbagai aliran sesat
itulah, Persis memikili tempat khusus di dalam “pasar” gerakan islam
saat itu. Ini juga sekaligus dapat menjadi indikasi bahwa A. Hassan bukanlah
tokoh yang bereputasi biasa-siasa saja, sekalipun organisasi tempatnya
bergabung bukan merupakan organisasi dengan anggota yang banyak dan jaringan
cabang-cabang yang banyak. Oleh karena posisinya itulah, posisi A. Hassan amat
layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Hasyim Asy’ari, Ahmad
Dahlan, A Wahid Hasyim, Tjokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Sookarti, dan
sebagainya. Dengan tokoh-tokoh ini pula A. Hassan sering duduk satu kursi dalam
berbagai forum umat islam saat itu.
KEPELOPORAN A. HASSAN DALAM GERAKAN ISLAM DI INDONESIA
kepeloporan A. Hassan harus
dilihat dari bidang yang digelutinya yang pada masa-masa berikutnya cukup
berpengaruh bagi perjalanan sejarah bangsa ini,yaitu bidang pemikiran islam. Dalam
bidang yang satu ini, sekalipun A. Hassan bukan satu-satunya pemikir islam,
namun terobosan-terobosannya cukup menyita perhatian banyak orang di seantero
negeri ini, bahkan hingga ke negri jiran. Ada beberapa hal yang penting untuk
kita garis bawahi.
Pertama, deklarasi kajian
islam. Pada zaman A. Hassan, kegiatan belajar agama adalah kegiatan yang boleh
dikatakan ekslusif dan sakral. Siapa yang ingin mempelajari islam, ia tidak
bisa mempelajarinya sendiri. Ia harus datang ke pesantren atau kiyai. Bila tidak
ingin menjadi santri yang belajar baca kitab gundul, ia hanya bisa bertanya
kepada kiyai dan pemuka agama. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila “kejumudan”
melanda sebagian besar orang islam. Kajian dan pemikiran islam tidak dibuka
untuk menjadi bahan perbincangan siapa saja secara umum. Adalah A. Hassan salah
satu yang paling penting dalam mendobrak kebekuan ini.
Dari tangan A. Hassan ini,
menurut catatan Federspiel, terbit majalah pertama Persis yaitu Pembela
Islam yang terbit pada tahun 1929. Cetakannya mencapai 2000 eksemplar. Artikel-artikel
dalam Pembela Islam ditulis oleh anggota-anggota Persatuan Islam atau
tokoh-tokoh lain yang menonjol yang isinya menekankan pada keta’atan ibadah dan
amaliah dalam kehidupan Umat Islam (Kajian Islam), juga pada peran agama dan
politik. Majalah ini dilarang belanda tahun 1935 karena dianggap memfitnah
penulis-penulis kristen Belanda. Selam enam tahun Pembela Islam telah
terbit sebanyak 71 kali.
Masih banyak majalah-majalah yang
ditulis oleh Persatuan Islam selain Pembela Islam diantaranya adalah: al-Fatwa,
al-Lisan, at-Taqwa, Lasjkar Islam, dan al-Hikam.
Kedua, pelopor tradisi
penerjemahan. Salah satu warisan A. Hassan yang masih dicetak dan dibaca oleh
banyak orang adalah terjemahan dan komentar Al-Qur’an dan Hadits. Terjemahan dan
tafsir Al-Quran-nya diberi judul Tafsir Al-Furqan sedangkan terjemah
plus komentar Hadits yang dibuatnya diberi judul Tarjamah Bulughul-Maram.
Terjemahan, baik Al-Qur’an maupun Hadits, ini apabila dibandingkan dengan
perkembangan penerjemahan satu dekade belakangan ini, tentu bukan suatu perkembagan
yang hebat. Saat ini tradisi penerjemahan sudah boleh dikatakan sangat maju. Bukan
hanya Al-Qur’an dan kumpulan Hadits yang tidak terlalu tebal seperti Bulughul-Maram
yang diterjemahkan, bahkan terjemahan Fathul-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari
yang dalam edisi terjemahannya menjadi lebih dari 20 jilid pun sudah dilakukan.
Apa yang dilakukan A. Hassan harus dilihat dari konteks zamannya.
Ketiga, pelopor pengkajian
aliran sesat. Saat ini, perbincangan mengenai aliran-aliran sesat sudah banyak
dilakukan oleh banyak orang. Perdebatan yang dilakukan A. Hassan dengan Ahmadiyah
di Gang Kenari tahun 1933 setelah ia menulis mengenai aliran ini di berbagai
majalah yang di asuhnya telah membuka mata publik tentang potensi-potensi
aliran sesat yang tersebar di tengah masyarakat. Kesadaran inilah yang
menyebabkan penolakkan MIAI pada tahun 1936 untuk memasukkan Ahmadiyah sebagai
anggota majelis ini. Bahkan, dalam setiap konggres Al-Islam yang
diselenggarakan selalu diagendakan pembahasan mengenai aliran-aliran sesat dan
penghinaan penghinaan terhadap islam. Biasanya Persis selalu dipercaya untuk
menjadi bagian dari tim kajian ini. Tentu saja tidak lepas dari apa yang telah
dilakukan A. Hassan
A Hassan (Sang Guru Besar Persatuan Islam)