Senin, 01 April 2019

PENDIDIKAN PERSIS DARI MASA KE MASA





Persatuan Islam menurut Deliar Noer didirikan di Bandung pada tahun 1920, sedangkan dalam QA AD Persis, Persatuan Islam didirikan pada tahun 1923. Ide Pendirian organisasi ini berasal dari diskusi-diskusi keagamaan yang digelar di kediaman salah seorang anggota kelompok yang berasal dari Sumsel, Palembang, yang sudah lama tinggal di Bandung. Mereka adalah keturunan dari tiga keluarga yang pindah dari Palembang pada akhir abad 18. Meskipun berasal dari Palembang, namun dalam kesehariannya mereka banyak menggunakan bahasa dan adat budaya sunda sebagai alat pergaulan sehari-hari.
Jumlah awal kelompok diskusi ini berjumlah 20 orang yang diantara mereka yang paling banyak memberikan gagasannya adalah H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Topik pembicaraan dalam kenduri ini menyangkut masalah-masalah agama yang dibahas dalam majalah Al-Munir di Padang, Majalah Al-Manar di Mesir dan Majalah Al-Imam dari Singapura.
Kelompok studi ini mendapat identitas pemikirannya dengan masuknya A. Hassan yang pada waktu itu kebetulan ngekost di kediaman H. Muhammad Yunus untuk mengikuti kelas pelatihan Tenun yang diadakan pemerintah di Bandung. Secara tidak sengaja A. Hassan ikut melibatkan dirinya dalam diskusi-diskusi keagamaan tersebut dan memutuskan untuk meninggalkan bisnis tenun – yang semula didirikan di Surabaya atas modal yang diberikan oleh sahabatnya Bibi Wantee yang kemudian dialihkan ke Bandung atas desakan para tokoh Persis yang tidak melepaskannya pulang ke Surabaya - yang dirintisnya di kota tersebut. kegiatannya yang semula berdagang kain tenun beralih kepada kajian-kajian keagamaan dan fokus mengabdikan dirinya dalam organisasi Persatuan Islam.
Berkat A. Hassan lah gaung Persis menjadi terdengar ke-seantero negeri bahkan tidak jarang orang lebih mengetahui Persis nya daripada tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Dengan pembawaannya yang keras dan lebih mengedepankan metode dakwah shock theraphy, A. Hassan kerap kali menggelar debat-debat seputar keagamaan dan kenegaraan dengan kelompok-kelompok yang dinilai berbahaya terhadap agama Islam. selama kiprahnya di Persatuan Islam, A. Hassan memiliki pola pendidikan kader yang khas kepada para muridnya. Contoh murid beliau yang berhasil menjadi tokoh yang berpengaruh bagi negara Indonesia adalah M. Natsir. A. Hassan sengaja merangkul kaula muda yang bersekolah di yayasan pendidikan yang dibuat oleh belanda karena beliau berfikir mereka adalah sosok potensial yang akan menjadi pemimpin bangsa pada masa yang akan datang.
 Beliau terkenal keras ketika beradu argumen dalam sebuah forum namun lembut dan bersahabat ketika bersama kawan dan muridnya. Hal ini terlihat dari cara memanggil orang lain dengan sebutan “Tuan” kepada siapapun orangnya yang beliau ajak bicara. Tidak peduli meskipun orang yang dihadapinya adalah seorang murid yang berusia lebih muda dari beliau. Kebiasaan beliau ini menunjukkan sifat dirinya yang selalu merendah sehingga, orang yang beliau ajak bicara selalu merasa kagum dengan sifat tawadhu yang dimilikinya dan kerap menjadikan akhlak beliau sebagai tauladan yang tidak jarang ditiru pula oleh para muridnya.

Pendidikan Persis Pada Masa A. Hassan dan Perintis Lainnya.
Setiap sore sepulang sekolah menengah, para muridnya selalu datang ke rumah beliau dan dari sanalah terjadi diskusi-diskusi terkait berbagai persoalan. Yang paling sering dibahas dalam diskusi tersebut adalah persoalan keagamaan yang tidak didapati di bangku sekolah umum buatan belanda. Setiap ada persoalan yang diajukan muridnya, beliau tidak serta merta memberikan jawaban dan solusi atas apa yang menjadi pertanyaan dari para muridnya, melainkan beliau selalu memberikan arahan agar mereka mencarinya dalam buku-buku dan rujukan berbahasa indonesia, arab, inggris, bahkan belanda yang beliau miliki. Setelah selesai membaca, biasanya beliau akan menyuruh muridnya untuk menuliskan gagasan yang mereka dapati dan tidak jarang beliau mengirimkan tulisan-tulisan muridnya untuk dimuat di majalah-majalah dan surat kabar Nasional agar dapat menjadi konsumsi publik yang bermanfaat untuk ummat.
Melalui metode pengajaran inilah semua murid yang dimiliki A. Hassan mendapat kepercayaan diri untuk mengembangkan kemampuannya dan berkontribusi untuk ummat, sehingga banyak pemikiran-pemikiran mereka yang banyak diminati dan memberi pengaruh yang amat besar dalam wawasan keislaman, pemikiran dan perpolitikan masyarakat Indonesia. Dalam tulisan-tulisan mereka, nampak jelas pengaruh pola pemikiran A. Hassan nyatanya telah banyak memberikan inspirasi dalam gagasan-gagasan yang mereka tuangkan. Hal ini dapat dilihat dari bahasa dan teknik penyampaian yang mereka tulis dalam media-media lokal dan Nasional.
Selain diskusi-diskusi yang A.Hassan gelar di rumahnya, beliau pula mempunyai kelompok diskusi keagamaan yang dibuat pada tahun 1927. Forum itu terbuka bagi para pelajar pribumi di sekolah menengah seperti MULO, AMS, dan Kweekschool. Tidak sedikit pemuda muslim berdatangan ke forum itu. Beberapa diantaranya adalah M. Natsir, Fakhruddin Al-Kahiri, Rusbandi dan sebagainya yang kelak di kemudian hari justru menjadi tokoh-tokoh Persis terkemuka.
Persis lantas dengan gencar membangun wadah untuk mengembangkan Islam. A. Hassan menjadi penasihat Komite Pembela Islam yang dipimpin Kyai Zamzam. Didirikannya komite ini dilandasi oleh adanya hasutan dari pihak-pihak yang hendak menjatuhkan Islam dan desakan para tokoh Islam yang ada di Bandung. Kemudian diantara rekan A. Hassan yang menyimpan perhatian penuh pada perkembangan pendidikan yang ada di Persis dan Indonesia pada Umumnya, A.A. Banama menggagas lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang memadukan antara kurikulum pendidikan Pesantren (Islam) dengan kurikulum umum yang selanjutnya dipercayakan kepada M.Natsir sebagai kepala sekolahnya. Sekolah ini dinamakan dengan Lembaga Pendidikan Islam atau lebih dikenal dengan singkatan Pendis yang didirikan pada tahun 1930. Sekolah ini selama masa perkembangannya berhasil mendirikan beberapa taman kanak-kanak, HIS (1930), MULO (1931), dan satu sekolah guru (1932). Pendis sendiri berdiri atas inisiatif Natsir sebagai jawaban terhadap tuntutan dari berbagi pih2ak, termasuk beberapa orang yang mengambil pelajaran bahasa Inggris dan beberapa pelajaran lain kepadanya. Tuntutan ini dikemukakan setelah memperhatikan berdirinya beberapa sekolah swasta di Bandung, yang tidak mengajarkan pelajara Agama. Pada masa-masa awal berdirinya, Pendis menarik banyak pelajar yang berasal dari berbagai daerah. Diantara tenaga pengajar yang mengajar di sekolah ini adalah K.H. E. Abdurrahman, Isa Anshary dan M.Natsir sendiri. Pendis sendiri keberadaannya tetap eksis hingga masa awal-awal kemerdekaan.
Dengan memperhatikan potensi yang dimiliki oleh jamiyyah Persatuan Islam didirikanlah Pesantren Persatuan Islam pertama di Jalan Pajagalan pada Tahun 1936. Jumlah santrinya 40 orang dan mempunyai masa belajar selama empat tahun. Syarat-syarat pesantren itu, antara lain, berusia 18 tahun; sehat jasmani dan rohani; mampu membaca dan menulis arab dan Latin; mempunyai pengetahuan tentang Alquran. Dan bila berminat menjadi guru, syaratnya adalah: benrjanji untuk mengabdi kepada Persis, berupaya mendirikan cabang-cabang Persis, disiplin ketat dan wajib mengerjakan perintah agama semacam sholat dan puasa, meninggalkan kesukaan menghidap rokok selama di pesantren, bersih badan dan pakaian, dan menjaga kesopanan.
Pelajar yang semula bersekolah di Pendis sebagiannya pindah dan belajar di Pesantren Persis di Jl. Pageran Sumedang (bekas gedung yang dipakai Pendis karena Natsir mulai Aktif di Politik). Barulah pada tahun 50-an dibangun gedung pesantren dan masjid di Jl. Pajagalan. Di pesantren Pajagalan ini dibuka kelas pelajar Takhasus dan Madrasan Ibtidaiyyah dengan sistem moderen Klasikal. Para santri yang belajar di pesantren tersebut banyak yang berasal dari berbagai tempat di luar Bandung, sehingga kebanyakan santri memilih untuk tinggal dengan menyewa kos kosan yang berada dekat di sekitar pesantren. Sebagian besarnya memilih untuk pulang pergi dari rumah orang tuanya dan sebagian nya lagi memilih untuk tinggal di rumah-rumah asatidz persis yang mengajar di sana.

Bangunan Pesantren Persis 1-2 Pajagalan
Bangunan Pesantren Persis 1-2 Pajagalan
Pada masa-masa awal ini memang Pesantren Persis Pajagalan belum memiliki bangunan Asrama, dan kegiatan yang ada di pesatren ini dimulai pada pagi hari sampai sekitaran siang selepas dzhuhur. Untuk mengisi kekosongan waktu, para santri disibukkan dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang diwadahi dalam organisasi pelajar putra putri pesantren persis yang dinamakan dengan Rijalul Ghad dan Ummahatul Ghad. Usia organisasi ini sama tuanya dengan awal mula didirikannya pesantren persis. Kegiatannya berfokus kepada kajian-kajian agama yang dibimbing langsung oleh para asatidz dan tidak jarang pula mengadakan mubahatsah tekait persoalan-persoalan agama yang menjadi penting pada waktu itu.
Selain fokus terhadap kajian-kajian keagamaan, organisai ini -yang kemudian disingkat menjadi RG-UG- pun banyak mengadakan pengajian-pengajian di rumah-rumah para santri dan sering juga mengadakan debat-debat dengan kelompok-kelompok menyimpang seperti Komunis dan golongan muslim yang masih berpegang teguh dengan keyakinan islam tradisionalnya. Organisasi santri ini menjadi sarana ekstra yang dimiliki oleh para santri untuk mengembangkan bakatnya serta berekspresi guna melatih kemampuannya aggar nantinya bisa bermanfaat untuk ummat dan jamiyyah khususnya.
Selain kegiatan-kegiatan keilmuan yang dilakukan oleh para santri baik dalam kegiatan belajar formal maupun kegiatan ekstra berupa RG-UG, fisik dan mental mereka pun diasah dengan diajarkannya pelatihan beladiri Shurulkhan ni syufu tae syukhan wa thifan pokhan juga kegiatan kepanduan pramuka dengan nama Syubanul Yaum. Melalui kegiatan-kegiatan inilah para santri ditempa untuk menjadi kader mujahid islam yang berdaya juang tinggi sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hal ini sesuai dengan visi dan misi pesantren persis yakni mencetak generasi yang tafaqquh fiddin dan menguasai iptek sebagai khalifatullah fil ardh.

Kegiatan Santri Pesantren Persis

Syufu Taesyukhan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan para santri tentunya tidak lepas dari bimbingan dan araha dari para asatidzah yang ada. Setiap sore sepulang sekolah, para santri biasanya nyorog kepada para asatidz sampai larut malam di rumahnya. Disini kemampuan para santri dalam menguasai kitab turats lebih ditekankan sehingga setelah keluar dari pesantren persis, para santri dapat menjadi da’i – da’i yang handal dan dapat memiliki kemampuan dalam menguasai berbagai aspek kehidupan.
Pada Tahun 1941, A. Hassan pindah ke Bangil dan mendirikan pesantren persis besar di sana. Di Bangil, A.Hassan mendirikan pesantren Persis untuk laki-laki dan perempuan secara terpisah. 25 dari 40 santri dewasa ikut pindah bersama A. Hassan dan melanjutkan pendidikan pesantren di sana. Sebagiannya lagi tetap tinggal di Pesantren Kecil yang dipimpin oleh Ustadz Abdurrahman di Bandung dan tetap melanjutkan pendidikan pesantren hingga berakhir masa penjajahan Belanda dan dimulai masa penjajahan Jepang. Namun saat terjadi revolusi fisik pada tahun 1945-1949, pesantren Persis di bawah kepemimpinan Ustadz Abdurrahman diungsikan ke Gunung Cupu Ciamis. Di sana proses belajar mengajar tetap berlanjut meskipun diwarnai dengan kondisi peperangan yang terjadi dengan tentara Jepang. Tak ayal para tenaga pengajar termasuk Ustadz Abdurraahman dan para santrinya ikut terjun dalam perang melawan penjajah. Setelah revolusi fisik berakhir, Pesantren Persis dipusatkan lagi di Bandung dan terus mengembangkan jenjang pendidikannya hingga tingkat Mu’allimin.

Bangunan Pesantren Persis A. Hassan Bangil
Ada yang menarik dari Pesantren Persis yang didirikan A. Hassan di Bangil ini. Jika pesantren yang didirikan di Bandung memiliki visi misi untuk melahirkan generasi ulama yang tafaqquh fiddien dengan mengolaborasikan pendidikan yang berwawasan IPTEK, di Bangil justru A. Hassan menjadikan visi misi pesantren nya untuk melahirkan da’i-da’i dan ulama yang mahir dalam fiqih – meskipun dalam kurikulum pesantren nya yang sekarang berubah tidak jauh berbeda dengan visi- misi pesantren persis yang dibuat oleh bidgar Dikdasmen PP. Persis-. Selain kurikulum pendidikan yang berbeda, di pesantren Bangil ini organisasi pelajar yang ada berbeda dengan yang ada di Bandung dan Pesantren Persis lainyya. Bagi santri putra, organisasi pelajar ini bernama Persatuan Pelajar Pesantren Persis (P3P), dan Persatuan Pelajar Pesantren Persis Putri (P4P). Kegiatan yang dilaksanakan pun langsung berada dibawah arahan dan bimbingan para asatidz/ah yang mengajar di Pesantren tersebut. kegiatan di dalamnya seperti: Qiyamullail, Puasa Sunnah, Tahfidz Alquran, Khitabah, Bel Belajar Malam, Olahraga, Seni Beladiri, Kebersihan, Keputrian (Les Jahit), Jurnalistik dan lain sebagainya berada di bawah kepengurusan P3P dan P4P.

Santri Putra Pesantren Persis Bangil


Santri Putri Pesantren Persis Bangil

Di Bawah Kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman
Pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman, pesantren persis membentuk sistem pembelajaran yang ketat namun tetap luwes, sesuai dengan pembawaan Ust. Abdurrahman yang bersifat low profile. Para santri ditempa untuk menjadi da’i-da’i yang handal dengan dibekali berbagai ilmu pengetahuan, buku-buku pelajaran yang digunakan kebanyakan adalah hasil tangan para ustadz di Persis. Seperti buku pelajaran mantiq yang dibuat oleh Ust. Abdurrahman, ilmu faraidh yang dibuat oleh A. Hassan dan trilogi Ushul Fiqh; mabadi’ awaliyah, As-Sulam dan Al-Bayan yang dibuat oleh Abdul Hamid Hakim dari Sumatra. Semuanya dibuat karena memperhatikan masih sedikitnya buku-buku pelajaran islam yang dibuat di Indonesia meskipun dalam prakteknya banyak juga kitab-kitab turats yang digunakan para asatidz untuk memberikan pelajaran kepada para santri.
Berhubung dengan sikap Persis yang mengisolir diri dari kancah perpolitikan di bawah kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman, para santri didikan beliau dibentuk untuk menjadi seorang ulama yang memiliki kemampuan menguasai ajaran islam yang mumpuni. Bahkan dalam setiap wisuda beliau seringkali berkata di hadapan para santrinya sambil memberikan ijazah, “ Mudah-mudahan ijazah nu ku anjeun tarima ieu teu bisa dipake jang neangan gawe.” Dalam aspek ini nampak jelas pola pendidikan yang beliau canangkan berupa pendidikan keulamaan yang murni tanpa mengandung unsur-unsur politik atau yang semacamnya. Salah satu alasan beliau mengambil sikap demikian karena besarnya kebutuhan akan da’i- da’i yang berwawasan Quran Sunnah untuk menyebarkan dakwah di daerah-daerah yang membutuhkan bimbingan keagamaan, termasuk beberapa daerah yang ada cabang-cabang jamiyyah persis di dalamnya.
Keteguhan K.H.E. Abdurrahman bersama rekan-rekannya, Qomaruddin Sholeh, K.H.E. Abdullah, I.Sudibja, dan M. Rusyad Nurdin dalam mengelola pesantren Persis sejak tahun 1941 sampai Tahun 1983 telah membuahkan puluhan pesantren di Jawa Barat. Yang terbesar ada di Garut dan Tasikmalaya (Pesantren 67 Benda). Hingga sekarang, perkembangan pesantren persis nampak terlihat sangat pesat. Dilihat dari jumlah pesantren persis yang tersebar di Indonesia dengan sistem Numeral yang -mulai diterapkan secara merata pada tahun 1996- berurutan telah mencapai lebih dari 270 pesantren yang terdiri dari jenjang pendidikan Diniyyah hingga Mu’allimin. Perkembangan ini tentunya merupakan prestasi besar yang dimiliki Persatuan Islam. dengan banyaknya Lembaga Pesantren yang berdiri, Persatuan Islam tidak akan lagi khawatir akan lumbung kader yang akan melanjutkan estapeta perjuangan.
Dalam kurikulum yang digunakan pun Pesantren Persis tetap memegang teguh kurikulum utama yang menjadi ciri khas Pesantren Persis dan dipadukan dengan kurikulum pendidikan modern. Kolaborasi ini menjadi strategi Persis untuk menciptakan kader-kader militan yang berwawasan Islam yang luas serta menguasai Iptek agar selain mampu mengemban misi-misi dakwah, para santri pun dapat menyesuaikan diri dengan alur perkembangan zaman.

Di Bawah Kepemimpinan A. Lathief Muchtar
Barulah pada masa kepemimpinan A. Latief Muchtar, Persis nampak mulai kembali membuka diri dari berbagai aspek sebagai upaya keluar dari zona isolir diri yang dimulai sejak kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman pada kepemimpinan sebelumnya. Langkah ini dinilai strategis menimbang kondisi Negara yang tidak lagi berada dalam otoritas terpimpin menjadi lebih terbuka terhadap berbagai pengaruh yang ada dari dalam dan luar. Selain perkembangan jamiyyah yang pesat, Persis pun berhasi mendirikan Sekolah Tinggi nya yang pertama pada tahun 1988 dengan nama Pesantren Luhur, yang kemudian mengalami perubahan nama dari Pondok Pesantren Tinggi (PPT), kemudian Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) dan terakhir Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIPI). Pada masa beliau inilah STAIPI berhasil meluluskan wisudawan angkatan pertama pada tahun 1997. Pada saat kelulusan ini, beliau berkata lirih, “ Akhirnya berhasil juga, dan tiba saatnya wisuda sarjana mahasiswa STAIPI.”

Kampus STAI Persis Bandung
Rancangan Universitas Persatuan Islam

Didirikannya perguruan tinggi Persis jurusan Dakwah dan Tafsir-Hadits, menurut Ustadz Lathief, didasari oleh kebutuhan tenaga da’i yang menguasai bidang dakwah, baik secara teoretis maupun praktis, dan mampu mengaktualisasikannya kepada masyarakat, baik dalam bentuk lisan dan tulisan. Selain itu, menurutnya, Persis juga perlu mempersiapkan tenaga-tenaga mufassir dan muhaddits yang handal dan mampu mengembangkan penafsiran secara tekstual, kontekstual, dan aktual serta menguasai metodologi Ilmu Hadits.
Berkat pergaulan beliau yang luas mencakup dunia Nasional dan Internasional, pendidikan persis mendapatkan banyak bantuan dari yayasan-yayasan yang berasal dari dalam dan luar negeri. Hal ini menjadi perhatian beliau karena melihat di Persis sendiri, kemandirian ekonomi belum mapan seperti yang dilakukan oleh organisasi lain seperti Muhammadiyyah dan Al-irsyad. Kondisi ini didasari oleh gerakan Persis itu sendiri yang dari semula lebih menekankan kepada aspek dakwah dan pergulatan pemikiran, sehingga berdampak pada kesejahteraan para pengajar dan da’i yang dimiliki Persis. Kondisi ini memiliki dampak positif sebagai alat pengukur keikhlasan berdakwah bagi para asatidz dan mubaligh persis. Namun dampak negatifnya akan menjadi masalah besar jika tidak segera dibenahi dan dibuat langkah strategis untuk merumuskan langkah gerak Persis dalam hal ekonomi pada masa yang akan datang. Jika sampai masalah ini dibiarkan, tentu masa depan jamiyyah akan terkena dampaknya. Ketika revolusi industri semakin gencar digalakan, Persis akan tertinggal dan terasingkan bersama ormas-ormas lain yang tidak memperhatikan aspek perkembangan ekonomi dari sekarang.
Selain sikap dan kebijakan yang A. Lathief Muchtar lakukan di atas, beliau pula ikut membidani lahirnya organisasi Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam ( HIMA Persis) sebagai wadah dan alat dakwah yang mempersatukan mahasiswa Persis dalam bingkai Alquran dan Sunnah. Sikap beliau ini tidak bisa dipisahkan dari latar belakang pendidikan beliau yang luas dan beragam di dalam dan di luar negeri. Atas dasar itulah, beliau menaruh perhatian besar bagi para calon pemimpin negara di masa yang akan datang ini agar dapat menjadi wakil orang tua di bidang intelektual yang ada di strata kampus. Maka dengan lahirnya HIMA Persis di bawah asuhan beliau, ranah dakwah yang dimiliki Persatuan Islam menjadi semakin luas dan beragam.
Tiga minggu sebelum wafatnya, di kantor PP. Persis, beliau masih sempat membicarakan pendirian Universitas Ahmad Hassan, sebuah universitas Persis yang berbasis agama dan pengembangan teknologi, dengan terlebih dahulu merencanakan pendirian Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM) Ahmad Hassan, Jurusan Fisika dengan spesialisasi instrumentasi dan teknologi syariah Islam, serta jurusan Metrologi dan pengendalian Mutu. Cita-citanya untuk mencetak kader-kader ilmuwan muslim sejati merupakan perpaduan jiwa Ustad Latief sebagai sosok cendekiawan dan ulama paripurna.
Selama perkembangan pendidikan yang ada di lingkungan Persatuan Islam hingga saat ini, tidak nampak perubahan dan perkembangan yang bersifat mencolok dan berskala besar dalam berbagai aspek. Paling tidak perkembangan yang bersifat lumayan besar dan mencolok adalah dengan diadakannya jenjang pendidikan umum selain Pesantren Persis seperti SMP Plus Panumbangan, SMA Plus Mu’allimin 182 Rajapolah, SMA Plus Pakenjeng dan masih ada lagi corak pendidikan persis yang berbeda dari pola pendidikan persis secara keumuman. Namun dengan didirikannya corak pendidikan yang berbeda tersebut, akselerasi dan kreatifitas Persis dalam menanggapi perkembangan zaman dapat dinilai wajar saja. dengan tidak menghilangkan kurikulum pendidikan yang dimiliki Persis, lembaga pendidikan-pendidikan tersebut ikut pula menggunakan kurikulum dinas kementrian pendidikan Republik Indonesia. Hal ini tentu menjadi suatu daya tari tersendiri bagi  Jamiyyah Persis pada khususnya, dan masyarakat islam sendiri pada umumnya untuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang dimiliki oleh jamiyyah Persis.
Selain lembaga pendidikan yang berkembang ke arah afiliasi terhadap corak pendidikan umum, Persis juga masih mempunyai pesantren yang tetap menggunakan kurikulum dan corak pendidikan khas yang dimiliki persis dari semenjak dahulu hingga sekarang. Ialah pesantren Persis 34 Cibegol. Dibawah kepemimpinan Ust. Romli, pesantren ini masih memegang teguh tradisi pesantren persis yang diwariskan oleh pendahulunya yakni K.H.E. Abdurrahman. Hingga saat ini pesantren Persis Cibegol masih menggunakan sistem Pesantren Persis Syawal Sya’ban –meskipun pada tahun pelajaran yang akan datang sistem SS ini akan diganti- disaat pesantren Persis yang lain sudah beralih menggunakan sistem kurikulum Juni-Juli. Selain kurikulum pendidikan yang masih murni, sistem pendidikan pesantren ini telah berhasil mencetak kader-kader ulama yang mumpuni dalam hal penguasaan kitab turats, yang pada saat ini menjadi sebuah barang langka di pesantren Persis yang lainnya.
Tentunya keberagaman corak ini menjadi sebuah harta kekayaan berharga bagi jam’iyyah persis yang tetap harus dijaga dan dilestarikan hingga akhir nanti. Namun, dengan beragamnya perkembangan yang terjadi di pesantren Persis menjadi sebuah PR besar bagi generasi mendatang agar bijak menanggapi perubahan sehingga dapat menjadikan perubahan dan perkembangan yang ada sebagai sarana dinamisasi jam’iyyah dan berdampak positif bagi jam’iyyah dan Ummat Islam pada umumnya. Maka dari itu, keberagaman corak dan perkembangan yang ada merupakan sebuah kewajaran yang terjadi di dalam sebuah tubuh organisasi, terlebih dalam bidang pendidikan yang bersifat dinamis dan akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Patutlah bagi seorang kader Persis menatap perkembangan jamiyyah ini sebagai peluang yang harus dimanfaatkan di masa yang akan datang demi terciptanya lapangan pendidikan yang baik dan terbukti mampu untuk menghasilkan para lulusan-lulusan yang siap bertarung di medan juang yang tentu akan sangat berbeda dengan para pendahulunya. Karena pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berorientasi untuk masa depan. Sesuai dengan Hadits: “Ajarilah anak-anakmu. Sesungguhnya mereka dilahirkan bukan di zamanmu.”





Garut, 17-Maret-2019
Abdurrofi Muwaffaq

1 komentar: