Saat
mendengar istilah abad pertengahan dalam sejarah Islam apa yang kita bayangkan?
Kebanyakan berfikiran bahwa pada masa-masa tersebut peradaban Islam telah
mencapai pada periode kematangannya serta mencapai puncak kejayaan dari segi
ilmu dan pembangunan. Pendapat tersebut ada benarnya juga, bahwa dunia Islam
intinya mencapai kematangan peradaban serta banyak penemuan-penemuan baru dalam
berbagai bidang yang ditemukan pada saat itu.
Namun
dibalik kemajuan peradaban tersebut ada pertarungan sengit dalam merebut
eksistensi dan pengikut di tengah masyarakat muslim oleh beberapa golongan
tertentu, yang semuanya merupakan perkembangan dari upaya penafsiran rukun iman
yang lima. Ada tiga gerakan intelektual yang menjadi faktor terbesar dunia Islam
bisa eksis sehingga mencapai puncak peradabannya. Yaitu, para pembina grass
root yang disebut dengan istilah ulama, filsuf dan sufi.
Ketiga
gerakan ini muncul dari usaha ummat dalam memahami wahyu setelah Rasulullah saw
tiada. Pada masa-masa awal para ulama mengambil peran sebagai pemegang otoritas
tertinggi dalam menafsirkan kalam Tuhan dan hadits-hadits yang oleh para
pendahulunya telah dikodifikasi dan diuji keotentikannya serta kevalidannya.
Mereka memiliki tempat khusus dalam pribadi masyarakat yang pengakuan atas
keabsahan dirinya sebagai wakil nabi secara otomatis menjadi penilaian sah
masyarakat. Mereka pun menjadi tempat bertanya ummat dan menjadi pengendali
arus peradaban melalui berbagai bidang dan jabatan strartegis baik secara
formal ataupun non formal.
Karena
peradaban intelektual Islam mengalami masa haus ilmu yang begitu besar, juga
meluasnya peradaban Islam hingga ke jantung ilmu pengetahuan yang dimiliki
peraban Yunani seperti Alexandria, yang pada masa itu merupakan
perpustakaan terbesar di dunia, sekaligus pusat peradaban intelektual bangsa
Yunani. Karena ketertarikan para penguasa terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan itulah, digalakanlah gerakan-gerakan penerjemahan besar-besaran
terhadap buku-buku berbahasa Yunani juga bahasa lain seperti China, India Persia
dll. Hasil dari penerjemahan ini muncullah sebagian dari kalangan kaum muslimin
yang tertarik untuk mempelajari ilmu-ilmu yunani yang disebut dengan filsafat.
Pada
arus perkembangannya, para teolog muslim/filsuf ini melahirkan berbagai ilmu
pengetahuan seperti astronomi, fisika, matematika dan ilmu pengetahuan lainnya.
Yang tidak kalah penting adalah munculnya aliran kalam yang menjadikan nalar
sebagai alat mencari kebenaran, termasuk dalam mencari kebenaran wahyu. Tentu
prinsip ini bertenangan dengan prinsip para ulama yang sudah lebih dahulu
menjadi leader nya alur pemikiran masyarakat. Sehingga tidak sedikit
pertentangan yang terjadi dan diabadikan
dalam sejarah peradaban Islam. Contoh yang paling besar ada pada masa khalifah
ketujuh abbasiyyah yang menjadikan salah satu aliran kalam bernama Muktazilah
sebagai ideologi negara. Ulama yang menentang keyakinan mereka menilai faham
ini telah meracuni masyarakat dan membawanya kepada kemusyrikan adalah Ahmad
bin Hambal. Sehingga pada suatu kesempatan, diadakanlah debat akbar yang
mempertemukan dua golongan ini pada forum khalifah yang mengangkat pembahasan “Apakah
Alquran adalah Makhluq?”.
Perdebatan
ini tidak pernah sampai pada kesimpulan akhir yang jelas, hingga pada akhirnya
khalifah memutuskan untuk memasukkan imam Hambal kedalam penjara dan
menyiksanya hingga ia berusia lanjut. Tindakan khalifah ini tidak menjadikan
muktazilah kuat, justru karena respon masyarakat yang lebih berpihak kepada beliau,
tindakan khalifah tersebut telah menjadikan muktazilah yang dinilai korup dan
materialis oleh masyarakat sebagai ideologi penguasa yang dzalim dan menjadikan
faham ini semakin tenggelam dan dibenci oleh masyarakat. Pada saat imam Hambal
di bebaskan, ia disambut oleh seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai pujian
dan sanjungan. Ini menandakan kemenangan para ulama atas penguasa dan faham
muktazilah yang dianutnya. Berirngan dengan bergantinya kepemimpinan berjalan
selaras juga dengan lenyapnya faham muktazilah ditengah tengah masyarakat.
Namun peristiwa ini tidak membuat para filsuf berhenti dan kapok menyebarkan
fahamnya, pertentangan ini kembali berlajut dengan berbagai peristiwa lain yang
amat banyak.
Untuk
melerai pertentangan yang tiada akhir ini, Imam Al-Ghazali berusaha menjadi
penengah dengan mengkaji kedua golongan tersebut secara radikal yang bersifat
falsafatis. Dari kajian inilah dapat diketahui hakikat kedua aliran tersebut
dan ia bandingkan satu sama lain. Lewat penelitiannya ia membuktikan bahwa
filsafat yunani itu keliru, kemudian ia membuat sebuah buku yang berjudul tuhfat
al-falsafatiyah, dan beberapa buku fenomenal lainnya. Yang intinya adalah,
membuktikan bahwa filsafat terbukti salah dan wahyu lah yang mesti dijadikan
landasan berfikir oleh ummat. Secara tidak langsung ia membuktikan bahwa
seharusnya para ulama lah yang mestinya di dengar bukan celotehan-celotehan
para filsuf.
Yang
menarik dari Al-ghazali ini adalah, dikala ia mendapatkan prestise yang begitu
cemerlang dikalangan masyarakat bahkan beliau diangakat menjadi grand syaikh di
salah satu universitas terbaik di Baghdad pada kala itu. Beliau merasakan
krisis jiwa yang begitu besar dalam dirinya, hingga ia melepaskan segala gelar
kehormatannya, menginfaq kan seluruh hartanya dan meinggalkan seluruh keluarga
dan kerabatnya dan menuju ke pengasingan.
Selama
pengasingannya itulah, pemikirannya berubah. Ia berbalik menyatakan bahwa pafa
sufi lah – yang tidak keluar dari kaidah-kaidah syariat- yang semestinya di dengar
dan diikuti baru kemudian ulama. Maka lahirlah karya fenomenalnya berupa kitab
ihya ‘ulumuddin yang isinya berkisar tentang pembahasan syari’at dengan
pendekatan tasawuf sebagai pengkajian dan pendalaman kejiwaan dikala seorang
muslim menyatakan diri terikat dalam ikatan syari’at.
Pada
masa-masa inilah ghirah intelektual kaum muslimin semakin menurun dalam
bidang-bidang pengkajian ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, kimia
dll. Pada masa ini kaum muslimin lebih cenderung kepada pengkajian ilmu agama
dan penghayatan sufi dibanding kepada
pengembangan ilmu alam. Yang pada akhirnya peradaban muslim akan menuju kepada
kejumudan berfikir secara ilmiyah dan terperosok kedalam lubang kejumudan
teologis sufi.

PERTARUNGAN GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM ABAD PERTENGAHAN